|
MAKNA NATAL I (28 November 2010) |
|
|
|
|
Sunday, 28 November 2010 09:53 |
|
Natal mengingatkan kita bahwa Tuhan telah bertindak dalam sejarah manusia demi kita, umat manusia, yang diciptakan menurut gambar dan citraNya. Sejak Adam dan Hawa memberontak terhadap Tuhan dan jatuh ke dalam dosa maka Tuhan berjanji dan bernubuat bahwa benih atau keturunan Hawa akan menyelamatkan manusia: “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya” (Kejadian 3:15).
Kita perhatikan bahwa silsilah pada Matius 1:1-17 menyoroti Yesus sebagai Anak Daud sedangkan silsilah pada Lukas 3:23-38 menyoroti Yesus sebagai Anak Adam dan Hawa. Dengan demikian Lukas menekankan bahwa Yesus lahir sebagai keturunan Adam dan Hawa yang dinanti-nantikan dan yang akan menggenapi Kejadian 3:15.
Setiap kali kita merayakan Natal kita diingatkan bahwa Tuhan lebih dahulu mengutamakan kebutuhan pokok kita. Hidup kita berada dalam kegelapan karena dosa. Namum Tuhan begitu mengasihi umat manusia sehingga Ia rela mengutus AnakNya yang Tunggal untuk mengalahkan kegelapan dan dengan demikian membukakan jalan keluar untuk kita dari konsekwensi-konsekwensi dosa kita (Yohanes 1:1-18).
Nabi Yesaya bernubuat demikian: “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita” (Yesaya 9:5). Demikian pula, Rasul Paulus menyatakan: “Ia, yang tidak menyayangkan AnakNya sendiri, tetapi yang menyerahkanNya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? (Roma 8:32).
Makna Natal ialah bahwa Tuhan rela memberikan AnakNya untuk keselamatan kita. AnakNya lahir untuk menggantikan kita melalui kematianNya di atas kayu salib. Memang mur yang dipersembahkan orang Majus kepada[END] |
|
KEPUASAN YANG SEJATI ADA DI MANA? (21 November 2010) |
|
|
|
|
Sunday, 21 November 2010 02:17 |
|
Mungkin sekali kita semua pernah dengan istilah “mid life crisis”. Yang dimaksudkan dengan istilah ini ialah masa peralihan dalam hidup seseorang yang sedang mencari kepuasan dalam hidupnya. Usaha untuk mencari kepuasan hidup ini menjadi semakin serius di sekitar umur 40 tahun. Pada fase hidup inilah kita sudah ada pasangan hidup dan anak kita sudah mulai sekolah. Atau kita sudah menerima/bersedia hidup sendirian.
Bagi anggota kita yang umurnya sekitar 40 tahun dan yang kerja mungkin sekali mereka sedang mempertimbangkan mencari pekerjaan yang lain karena sudah ‘bosan’ atau ‘jemu’ dengan rutinitas di kantor. Mungkin di antara mereka ada yang mengambil keputusan studi lagi untuk meningkatkan peluang mendapat pekerjaan yang lebih memuaskan untuk masa depan. Ada juga yang meninggalkan pekerjaannya demi mengejar MBA dari perguruan tinggi yang bermutu secara internasional.
Ada juga anggota yang sumber nafkahnya ialah sebagai usahawan. Mungkin beberapa di antara mereka sedang mempertimbangkan membuka cabang di tempat lain. Ada juga yang mengambil keputusan untuk balik ke tanah air karena dianggap peluang untuk berhasil dalam bisnis akan jauh lebih cerah di situ karena jumlah konsumen begitu banyak. Apalagi koneksi-koneksi yang ada di tanah air.
Ada pula anggota kita yang sebagai ibu rumah tangga berpikir sudahlah waktunya mereka mencari pekerjaan atau pun menjalankan usaha kecil. Anaknya sudah sekolah. Dorongannya bukan keuangan melainkan mencari kepuasan hidup sementara mereka masih kuat dan penuh semangat dari pada mengerjakan setiap hari tugas-tugas yang di tanah air akan ditangani oleh pembantu rumah tangga.
Semua contoh di atas ini bertujuan untuk menunjukkan usaha kita pada umumnya untuk mencari kepuasan dalam hidup kita. Memang dari contoh-contoh di atas ada yang bersedia “berkorban” demi mendapat kepuasan dalam hidupnya. Ada yang bersedia belajar lagi untuk mendapat ijazah tambahan yang mereka harapkan akan meningkatkan peluang mereka mendapat kepuasan hidup. Ada pula yang bersedia menanam modal baik di Australia mau pun di tanah air demi menciptakan peluang untuk usaha yang akan membawa kebahagiaan.
Yakobus 4:13-17 mengingatkan kita supaya jangan melupakan Tuhan dalam perencanaan. Prinsip yang sebaiknya selalu kita pegang ialah: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu”.
Demikian pula kesaksian raja Salomo dalam kitab Pengkhotbah mengingatkan kita bahwa semua usaha kita hanyalah kesia-siaan belaka kalau Tuhan tidak dilibatkan di dalamnya. Orang yang tidak mengutamakan Tuhan disebut sebagai orang yang “bodoh”.
Apa pun pekerjaan atau usaha kita marilah kita selalu ingat kebijakan Pengkhotbah 3:12-13: “Aku tahu bahwa untuk mereka tak ada yang lebih baik dari pada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka. Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah”. [END] |
|
TIDAK MENGHARGAI ANUGERAH TUHAN (07 Nov 2010) |
|
|
|
|
Saturday, 06 November 2010 11:03 |
|
Salah satu tujuan atau gol tanggung jawab kita sebagai orang tua dalam membesarkan dan mengasuh anak kita ialah supaya mempersiapkan mereka berdikari atau mandiri. Khususnya berdikari secara rohani. Yaitu supaya mereka sendiri mempunyai hubungan pribadi dengan Tuhan, supaya mereka menemukan panggilan Tuhan atas hidup mereka dan supaya mereka menghargai anugerah Tuhan.
Mungkin sekali kita berhasil melatih anak kita supaya menghargai keuangan dan harta milik sehingga mereka bersikap dewasa terhadap hal finansial. Yaitu supaya mereka mengerti bagaimana menggunakan keuangan sebagai suatu sarana dari pada diperhamba olehnya. Mungkin juga kita berhasil melatih anak kita supaya bijaksana apabila makan di buffet yang bersifat ‘all you can eat’. Yaitu supaya mereka tidak hanya mengisi perut dengan segala macam makanan karbohidrat tetapi memilih makanan yang sungguh lezat dan sekaligus baik untuk kesehatan, bahkan sesuatu yang sungguh istimewa. Tetapi, siapakah diantara kita berhasil melatih anak kita supaya sungguh menghargai anugerah Tuhan?
Melalui perumpamaan tentang perjamuan kawin (Matius 22:1-14) maka Tuhan Yesus memperingati kita supaya jangan bersikap tidak menghargai anugerah Tuhan. Karena tidak menghargai anugerah Tuhan sama dengan tidak menghargai siapakah Tuhan.
Dalam perumpamaan ini yang diundang ke perjamuan kawin anak sang raja satu persatu menyatakan tidak dapat memenuhi undangan. Bahkan mereka sama sekali tidak mengindahkan undangannya. Ada juga yang menangkap hamba-hamba yang diutus raja, menyiksanya dan membunuhnya.
Marilah kita perhatikan konteksnya dari perumpamaan ini. Undangan ke perjamuan kawin anak raja telah dibagikan beberapa waktu sebelumnya. Pada saat perjamuan akan dimulai hamba-hamba raja diutus untuk mengundang para undangan supaya datang ke perjamuan. Pada zaman itu orang Yahudi jarang sekali makan daging sehingga undangan ke suatu perjamuan kawin merupakan undangan istimewa. Apalagi undangan ini dari raja! Kemudian salah satu yang hadir di perjamuan itu tidak ada pakaian pesta. Hal itu berarti orang it tidak menghargai atau tidak mengindahkan yang mengundangnya ke pesta itu.
Kalau kita sungguh takut akan Tuhan dan sungguh menghormati Tuhan maka cara kita menghadap Tuhan akan menunjukkannya. Bahkan kita akan menghargai apa pun yang Tuhan berikan kepada kita. Kita akan menghargai anugerahNya. Hal ini akan dicerminkan, antara lain, melalui prioritas hidup kita. Apakah yang kita sungguh utamakan dalam hidup kita?
Satu contoh kongkrit ialah baptisan. Mereka yang menolak sakramen baptisan menolak apa yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. Dengan demikian mereka tidak menghargai anugerah Tuhan.[END] |
|
KEDAULATANNYA YANG MENGHIDUPKANKU (31 October 2010) |
|
|
|
|
Saturday, 30 October 2010 04:58 |
|
Kedaulatan Tuhan paling nampak pada saat kita sangat tidak berdaya. Hal ini dapat kita ilustrasikan dari Pembuangan ke Babel yang berlangsung pada tahun 587 SM.
Waktu orang Israel dibuang ke Babel Tanah Perjanjian direbut oleh tentara Babel, raja mereka dibawa sebagai tawanan ke Babel dan Bait Suci dihancurkan. Banyak orang Israel dibawa sebagai tawanan ke Babel. Pembuangan ke Babel memang merupakan saat yang paling gelap bagi bangsa Israel.
Tetapi justru pada saat inilah waktu Israel paling tidak berdaya dan ternyata tidak ada pengharapan lagi maka Tuhan menunjukkan kedaulatanNya. Yesaya 45:1 menerangkan bahwa raja Persia, Koresh, ialah “mesias” Tuhan. Artinya, Koreh diurapi oleh Tuhan (tanpa menyadarinya) untuk tugas atau misi Tuhan. Kedaulatan Tuhan dinyatakan tatkala Koresh menggulingkan kerajaan Babel.
Yesaya 45:1 menyatakan: “Beginilah firman TUHAN: ‘Inilah firmanKu kepada orang yang Kuurapi, kepada Koresh yang tangan kananya Kupegang supaya Aku menundukkan bangsa-bangsa di depannya dan melucuti raja-raja, supaya Aku membuka pintu-pintu di depannya dan supaya pintu-pintu gerbang tidak tinggal tertutup.”
Pendek kata, Koresh bagaikan alat dalam tangan Tuhan untuk melakukan kehendak dan rencana Tuhan. Melalui kuasa Tuhan semua senjata raja-raja akan dilucuti. Jadi, semua kerajaan berada dalam tangan Tuhan. Hal ini diterangkan secara jelas betul kepada Daniel beberapa tahun sebelumnya.
Pada saat Tuhan Yesus ditangkap dan kemudian disalibkan maka manusia mengira bahwa merekalah yang berkuasa tetapi sebenarnya yang sugguh terjadi ialah penyataan kedaulatan Tuhan. Karena justru di dalam kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus kita melihat kedaulatan Tuhan yang sanggup mengalahkan maut dan semua kuasa gelap.
Firman Tuhan menerangkan bahwa sewaktu-waktu setiap kita akan mengalami tantangan sebagai orang percaya (lihat misalnya Yakobus 1:2-8; 1 Petrus 1:3-9). 2 Timotius 3:12 menyatakan: “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya”. Kitab Wahyu menerangkan bahwa orang percaya akan menghapadi tantangan tetapi kemenangan berada dalam tangan Anak Domba Allah.
Justru karena kedaulatan Allah kita dilahirkan kembali. Kita diberikan hidup yang baru. Demikian juga kedaulatan kita memampukan kita hidup untuk Tuhan dalam dunia yang sesat ini. Kita tidak akan takut menghadapi lembah kekelaman sebab kedaulatan Tuhan menghidupkan kita.[END] |
|
Pengumuman (24 October 2010) |
|
|
|
|
Sunday, 24 October 2010 09:50 |
|
1) Pada hari Minggu 31 Oktober 2010, PMKIC (Persekutuan Masyarkat Indonesia di Canberra) akan mengadakan kunjungan balasan atas kunjungan dan pelayanan Angklung Nafirision IPC Randwick ke Canberra bulan September 2009 yang lalu. PMKIC akan menyampaikan pujian dalam kebaktian II hari itu, jemaat diundang untuk hadir.
2) Outing Komisi Usindah Kanaan ke Bobbin Head Sabtu, 30 Oktober 2010 Pendaftaran pada Ibu Esther Gunawan / Ibu Niniek Santoso Biaya termasuk untuk ticket masuk dan konsumsi (lunch): - $25 per orang bagi yang akan ikut dengan bus - $15 per orang untuk yang membawa kendaraan sendiri (ticket masuk untuk yang membawa kendaraan sendiri tolong dibayarkan dulu pada waktu masuk, kemudian serahkan pada Pak Aming untuk di reimburse oleh Panitia) Untuk yang ikut bus, harap berkumpul di gereja Randwick,bus akan berangkat jam 9.00 tepat. |
|
MANUSIA BERHARGA DI MATA TUHAN (24 October 2010) |
|
|
|
|
Sunday, 24 October 2010 09:47 |
|
Kalau kita menyelidiki istilah-istilah yang digunakan dalam Perjanjian Lama maka istilah-istilah yang digunakan untuk menguraikan siapakah manusia juga digunakan untuk menguraikan binatang. Artinya, binatang mempunyai tubuh (basar), jiwa (nefesy) dan roh (ruakh). Kalau begitu, apakah perbedaan antara manusia dan binatang?
Mereka yang tidak percaya adanya Tuhan berpendapat bahwa manusia sama dengan binatang yang lain. Pendapat ini didasarkan, antara lain, pada teori evolusi. Menurut mereka tidak ada perbedaan pokok antara binatang dan manusia. Bagi mereka manusia hanya lah lebih pandai karena otaknya lebih besar. Pendapat ini dicerminkan pada mereka yang membela/menyelamatkan ikan paus, jenis katak tertentu dst.
Memang Perjanjian Lama menyatakan bahwa binatang menyadari adanya Tuhan bahkan mempunyai suatu hubungan dengan Tuhan. Kalau demikian apakah bedanya antara manusia dan binatang?
Kejadian 1:26,27 menerangkan bahwa hanyalah manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Tuhan. Kemudian Kejadian 2:19,20 menceritakan bagaimana caranya manusia menamai binatang. Hal ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari pada binatang. Apalagi inkarnasi Tuhan Yesus menunjukkan bahwa manusia sangat berharga di mata Tuhan (Ibrani 2:10-18). Hanyalah manusia yang dapat mengadakan hubungan pribadi dengan Tuhan.
Mazmur 116:15 menyatakan: “Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihiNya”. Demikian pula Matius 10:30 menyatakan: “rambut kepalamu pun terhitung semuanya”. Tuhan Yesus menerangkan bahwa “akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa bertobat”. Paulus juga menyatakan bahwa Tuhan “menghendaki supaya orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1 Timotius 2:4).
Karena manusia berharga di mata Tuhan maka kita harus semakin giat untuk memberitakan Injil sampai ke ujung bumi. Karena setiap orang adalah unik maka cara kita menginjili setiap orang harus dengan cara yang cocok untuk orang itu. Apalagi kita harus tekun berdoa secara khusus dan secara spesifik untuk keselamatan orang.
Karena manusia berharga di mata Tuhan maka setiap pengalaman kita mempunyai maksud Tuhan. Kalau Tuhan menganugerahkan kepada kita kekayaan maka itu karena Tuhan ingin supaya kita menggunakannya untuk kemuliaanNya. Kalau Tuhan mengijinkan kita mengalami kesakitan maka itu karena Tuhan ingin supaya iman kita diuji kemurniannya.
Setiap kita berharga di mata Tuhan. Marilah kita hidup untuk Tuhan.[END] |
|
|
Saturday, 09 October 2010 10:55 |
|
Pada Gerakan Reformasi para reformator menekankan peranan firman Tuhan dalam kehidupan orang percaya dan dalam gereja. Semboyan yang dipakai mereka berbunyi “sola Scriptura” yang berarti “pada firman Tuhan sajalah”.
Dalam khotbahNya di Bukit maka Tuhan Yesus sering menyatakan: “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: jangan …. Tetapi Aku berkata kepadamu ….” Dengan demikian Tuhan Yesus membuat suatu perbandingan antara ajaran para Farisi dan Saduki dan ajaran yang Dia sampaikan. Masalahnya ialah bahwa selama empat ratus tahun sejak zaman nabi Maleakhi para pemimpin agama Yahudi menambahkan pada firman Tuhan tradisi dan peraturan mereka sehingga tambahan tersebut secara resmi disamakan dengan firman Tuhan. Sehingga pada zaman Tuhan Yesus tradisi itu diterima sebagai setara dengan firman Tuhan.
Seperti halnya dengan pemimpin agama Yahudi pada zaman Tuhan Yesus maka salah satu masalah besar pada Gereja Pertengahan Abad lima ratus tahun yang lalu ialah bahwa tradisi gereja tidak hanya disamakan otoritanya dengan firman Tuhan melainkan ajaran gereja dianggap lebih tinggi derajatnya dari firman Tuhan. Di samping itu firman Tuhan hampir tidak dibaca. Yang dibaca dan dipelajari ialah tradisi gereja dan ajaran gereja. Andaikata firman Tuhan dibaca maka hanyalah dibaca dalam bahasa Latin yang sama sekali tidak dimengerti oleh masyarakat.
Para reformator menekankan bahwa pelayanan harus didasarkan pada firman Tuhan dan bahwa pemimpin gereja pun harus menempatkan diri di bawah otorita firman Tuhan. Justru karena otorita firman Tuhan ialah otorita yang paling tinggi. Pada titik permulaan Gerakan Reformasi maka firman Tuhan dibaca dalam bahasa ibu masyarakat dan disampaikan, diterangkan dan diterapkan pada mereka dalam bahasa ibu mereka masing-masing. Pelayanan para reformator dipusatkan pada firman Tuhan dan peranan Roh Kudus.
Gereja Pertengahan Abad menjatuhkan hukuman mati pada siapa pun yang berani menterjemahkan firman Tuhan ke dalam bahasa ibunya. Tetapi sesuai dengan kedaulatan Tuhan maka proses mencetak dengan peralatan cetak sudah mulai dipakai di Strasbourg pada tahun 1439 oleh Johannes Gutenberg. Sehingga pada zaman Gerakan Reformasi dengan adanya proses pencetakan berarti firman Tuhan dalam bahasa ibu dan buku-buku mengenai ajaran firman Tuhan dapat dengan cepat dicetak dan disebarluaskan. Dan sementara dalam persembunyiannya di istana Wartburg di Eisenach, Jerman, Martin Luther menterjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Jerman.
Para reformator juga menekankan “priesthood of all believers”. Artinya, setiap orang percaya berhak langsung membaca firman Tuhan dan langsung berdoa kepada Tuhan tanpa perantara seorang romo (sacerdos) yang mempunyai hak untuk memimpin kebaktian missa. Oleh karena itu maka pada reformator semakin giat supaya sebanyak orang mungkin dapat membaca firman Tuhan dalam bahasa ibu mereka masing-masing.
Sampai berapa jauh kita menghayati firman Tuhan? |
|
KIAT MENGALAHKAN PENCOBAAN (26 September 2010) |
|
|
|
|
Saturday, 25 September 2010 10:54 |
|
Memahami makna dari Natal sangat penting bagi kita orang percaya. Antara lain Natal berarti bahwa dalam Yesus maka Tuhan menjelma menjadi manusia. Ibrani 2:14 menerangkan: “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut.”
Penulis Ibrani juga menegaskan bahwa: “Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya” (Ibrani 4:15,16).
Sebagai orang percaya kita telah dilahirkan kembali (Yohanes 3:3-8) dan dijadikan ciptaan baru (2 Korintus 5:17). Semuanya adalah karya Roh Kudus dalam diri kita. Memang Roh Kudus akan menginsafkan kita akan dosa (Yohanes 16:8-11). Bahkan Roh Kudus menasihati kita setiap kali kita dicobai. Oleh karena itu maka Rasul Paulus memperingati kita supaya jangan mendukakan Roh Kudus (Efesus 4:30).
Roh Kudus memperlengkapi kita dan memperkuat kita supaya mengikuti teladan Tuhan Yesus menghadapi pencobaan seperti diuraikan pada Lukas 4:1-15. Kita perhatikan betapa cerdik si Iblis setiap kali dia mencobai Tuhan Yesus. Tetapi kita juga perhatikan bahwa taktiknya Yesus menghadapi pencobaan ialah mengutip firman Tuhan dengan benar dan dengan mengerti konteks dari firman Tuhan itu. Menarik juga bahwa setiap kali Tuhan Yesus mengutip dari kitab Ulangan karena kitab ini menekankan mengasihi Tuhan dengan segala keberadaan manusia dan juga menekankan ketaatan atau kepatuhan kepada Tuhan.
Sebagai manusia maka Tuhan Yesus dapat mengutip firman Tuhan dengan tepat karena Dia sungguh-sungguh berusaha untuk menghafal firman Tuhan. Marilah kita berusaha sedapat mungkin untuk mengikuti teladan Tuhan Yesus untuk menghafal firman Tuhan supaya kita dapat mengutipnya dengan tepat dan benar.
Wang Ming Dao dipenjarakan oleh orang komunis selama dua puluh tiga tahun di Tiongkok. Meskipun dipenjarakan tanpa Alkitab atau tulisan Kristen namun Wang Ming Dao tetap dapat menghafal firman Tuhan. Dengan menghafal firman Tuhan Wang Ming Dao dapat menguatkan dirinya dan sekaligus melayani kepada rekan-rekan yang juga turut dipenjarakan bersama dengan dia. [END] |
|
DIALAH KONSELOR YANG AGUNG (12 September 2010) |
|
|
|
|
Saturday, 11 September 2010 13:02 |
|
Mazmur 77 mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak akan selalu meluputkan kita dari kesesakan. Memang kita dapat mengaitkan Mazmur 77 dengan janji Tuhan Yesus yang terdapat pada Yohanes 16:33: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”
Konteks dari janji Tuhan Yesus ialah pada kata perpisahanNya dengan murid-muridNya (Yohanes 14-16). Tuhan menerangkan kepada murid-muridNya bahwa Dia harus mati dan, setelah kebangkitanNya, naik ke surga. Tetapi dengan demikian maka Tuhan tidak akan meninggalkan murid-muridNya sendirian karena Dia akan mengutus Roh Kudus kepada mereka. Roh Kudus dinamakan Tuhan sebagai Penghibur, Penasihat dan sebagai Konselor (parakletos dalam bahasa Yunani).
Melalui Mazmur 77 kita dapat melihat bagaimana umat Isarel menghadapi kesesakan dalam hidup mereka. Pemazmur, yang namanya Asaf, berseru-seru kepada Tuhan berdasarkan perbuatan Tuhan di masa lampau. Pemazmur berseru kepada Tuhan dengan sangat. Hal ini tidak berarti bahwa pemazmur ada keyakinan bahwa Tuhan pasti akan mendengarkan seruan karena usahanya untuk meminta Tuhan mendengarkannya melainkan pemazmur mempunyai keyakinannya karena Tuhan bertidak di masa lampau. Yang dapat kita pelajari dari Mazmur 77 ialah, seperti si pemazmur, supaya kita berserah secara mutlak apabila kita menghadapi kesesakan dalam bentuk rupa apa pun.
Firman Tuhan selalu menekankan bahwa Tuhan tidak berubah. Sebagaimana Tuhan bertindak pada masa lampau untuk meyelamatkan umatNya dari kesesakan mereka, maka Tuhan tetap sanggup menyelamatkan umatNya dari pergumulan, kesakitan dan serangan dari musuh-musuhnya.
Apabila Tuhan menyatakan bahwa “Aku telah mengalahkan dunia” maka yang ditekankanNya ialah bahwa Dia mengalahkan kuasa maut dan kuasa si iblis. Sehingga apa pun yang terjadi di dunia ini tidak akan menggagalkan rencana dan kehendak Tuhan. Tidak ada apa pun yang dapat menggagalkan rencana dan kehendak Tuhan untuk diri kita. Bahkan setiap kita berharga di mata Tuhan. Rambut kepala kita pun telah terhitung (Matius 10:30).
Roma 5:3-5, Yakobus 1:2-8 dan 1 Petrus 1:6-9 juga mengajarkan kepada kita bahwa ada kalanya Tuhan menguji iman kita melalui kesesakan supaya kita leibih mantap secara rohani dan supaya kita semakin berserah kepada Tuhan. Pada saat kita sedang menghadapi kesesakan kita tidak sendirian karena kita dikuatkan oleh Roh Kudus. Dialah Konselor Agung yang dijanjikan oleh Tuhan.[END] |
|
AYAH YANG MENCERMINKAN KASIH TUHAN (5 September 2010) |
|
|
|
|
Friday, 03 September 2010 05:32 |
|
Pada Hari Ayah ini marilah kita mempelajari dari Rasul Paulus mengenai seorang ayah yang sungguh mencerminkan kasih Tuhan.
Paulus menyatakan: “Kamu adalah saksi, demikian juga Allah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya kami berlaku di antara kamu, yang percaya. Kamu tahu betapa kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang, dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaanNya” (1 Tesalonika 2:10-12).
Sebagai seorang ayah, siapakah di antara kita dapat bersaksi bahwa kita memang hidup saleh, adil dan tak bercacat terutama di depan keluarga kita yang tahu semua kelemahan kita? Apakah anak kita dapat melihat kesalehan kita melalui tingkah laku kita, prioritas hidup kita dan cara kita bicara dengan anak kita? Apakah anak kita dapat melihat bahwa kita memang hidup konsekwen dan bahwa kita memang selalu menegakkan keadilan? Memang tidak ada di antara kita yang tak bercacat, tetapi apakah anak kita melihat bahwa kita mau mengakui kesalahan dan kelemahan kita dan, dengan pertolongan Roh Kudus, berusaha untuk memperbaikinya?
Pastilah anak kita akan memperhatikan bagaimana cara kita, sebagai ayah, menghadapi tiga “ta” dalam hidup sehari-hari (wanita, harta dan takhta).
Marilah kita menyoroti secara khusus “takhta”. Bagaimanakah anak kita melihat cara kita menunjukkan kepemimpinan, wibawa dan tanggung jawab kita sebagai seorang ayah?
Apakah kita memang menasihati dan menguatkan hati anak kita satu per satu tanpa memandang di antara mereka? Ataukah, apakah kita sebagai ayah menyakiti hati anak kita sehingga mereka menjadi tawar hati (Kolose 3:21)?
Lagi pula, sebagai seorang ayah, apakah kita memang menghimbau anak kita hidup sesuai dengan kehendak Tuhan? Bahkan apakah kita meminta dengan sangat supaya anak kita hidup sesuai dengan kehendak Tuhan? Di negara-negara Asia tidak jarang orang tua cenderung mengharapakn bahkan ‘memaksa’ anak mereka untuk memenuhi kehendak orang tua. Tetapi kita harus menolak kecenderungan ini. Harga diri kita tidak bergantung pada keberhasilan anak kita atau pun prestasi yang mereka capai entah di bidang dunia akademik atau di dunia bisnis.
Setiap anak kita ialah pemberian yang Tuhan anugerahkan kepada kita. Yang perlu kita tekankan dan utamakan ialah supaya anak-anak kita menemukan sendiri kehendak Tuhan dan panggilan Tuhan atas hidup mereka. Mungkin sekali anak kita akan dipanggil untuk suatu pelayanan, bahkan pelayanan full-time. Relakah kita menguatkan hati anak kita di dalam pergumulan mereka menemukan kehendak Tuhan? Relakah kita dengan sabar menasihati dan menguatkan hati anak kita di dalam usaha mereka menemukan teman hidup? [END] |
|
IBADAH DAN PELAYANAN YANG DIPERKENAN TUHAN (29 August 2010) |
|
|
|
|
Friday, 27 August 2010 12:29 |
|
Pada Perjanjian Lama seringkali Tuhan menyatakan bahwa Dia tidak senang dengan cara orang Israel beribadah kepadaNya. Misalnya, melalui Samuel maka Tuhan menegaskan kepada raja Saul: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan” (1 Samuel 15:22).
Demikian pula pada zaman raja Jereboam II maka Tuhan menyatakan melalui nabi Amos: “Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu. Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepadaKu korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang. Jauhkanlah dari padaKu keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar. Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir” (Amos 5:21-24).
Jadi, jelas sekali bahwa yang menyenangkan hati Tuhan ialah sikap hati. Hati yang mau mendengarkan suara Tuhan. Hati yang mau taat kepada Tuhan. Hati yang mau menunjukkan keadilan Tuhan dalam hidup sehari-hari.
Apabila kita berkumpul bersama untuk beribadah kepada Tuhan setiap hari Minggu apakah yang berkenan di hati Tuhan? Jumlah yang hadir? Gedung gereja yang memadai? Musik yang kita persembahkan kepada Tuhan dengan alat musik dan PA system yang paling hebat? Pakaian kita yang rapih? Kolekte yang nilainya tinggi?
Tuhan Yesus menerangkan kepada perempuan Samaria bahwa “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran” (Yohanes 4:24). Dengan demikian Tuhan Yesus menggarisbawahi bahwa cara pengikutnya menyembah Tuhan harus dengan benar dari hati yang tulus. Sikap ini ialah kebalikan dari pada sikap para pemimpin agama Yahudi yang disalahkan oleh Tuhan Yesus sebagai munafik.
Demikian pula dengan pelayanan kita entah itu sebagai guru sekolah minggu, anggota paduan suara, pengurus salah satu komisi dst. Yang menyenangkan hati Tuhan ialah sikap dan hati kita. Apakah kita melayani untuk kemuliaan Tuhan dan hanya untuk namaNya? Apakah kita melayani karena kita ingin melihat Kristus semakin dibentuk dalam mereka yang kita layani? Apakah kita melayani supaya orang lain akan melihat Kristus?
Kata-kata terkahir dari nyanyian “May the mind of Christ my Saviour” merupakan tantangan untuk kita semua: “And may they forget the channel, seeing only Him.” [END] |
|
DOA DAN IMAN YANG DIPERKENAN TUHAN (23rd August 2010) |
|
|
|
|
Sunday, 22 August 2010 12:46 |
|
Dalam kitab Mazmur terdapat beberapa mazmur yang menyatakan suka cita apabila umat Tuhan berziarah ke Bait Suci yang terletak di atas gunung Sion di kota Yerusalem. Mazmur 42 dan 43 mengungkapkan kerinduan si pemazmur supaya dapat berziarah ke Bait Suci karena terlalu lama terhalang, pada zaman pembuangan ke Babel, dari kesempatan pergi menghadap Tuhan di Yerusalem.
Mazmur 122 merupakan salah satu nyanyian ziarah Daud. Pada ayat 1 dan 2 Daud mengekspresikan suka cita apabila dia sempat ke Bait Suci: “Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: ‘Mari pergi ke rumah TUHAN.’ Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem.”
Waktu Tuhan Yesus mengusir pedagang dan penukar uang dari Bait Suci maka Dia menyatakan: “Ada tertulis: RumahKu adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun” (Lukas 19:46). Yang menjadi masalah ialah bahwa orang bukan Yahudi yang mau datang berdoa kepada Tuhan terhalang oleh pedagang dan penukar uang.
Yang menyenangkan hati Tuhan ialah supaya umatNya sungguh-sungguh beriman kepadaNya. Beriman kepada Tuhan berarti, antara lain, bahwa kita bergantung padaNya secara mutlak. Kita menunjukkan bahwa kita bergantung pada Tuhan secara mutlak dengan berdoa kepadaNya.
Pada Mazmur 122:6 Daud menghimbau semua supaya berdoa untuk ‘syalom’. Istilah ini (????) dapat diterjemahkan sebagai “kesejahteraan” atau “sentosa”. Sehingga ayat 6 diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai: “Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem: ‘Biarlah orang-orang yang mencintaiMu mendapat sentosa’”.
Yang menyenangkan hati Tuhan bukanlah melakukan kewajiban beragama (lihat Matius 6:1-18). Yang menyenangkan Tuhan ialah apabila di mana kita berada maka kita menunjukkan kebergantungan total kepadaNya secara spontan.
Apakah rekan kita di kantor atau di sekolah tahu bahwa kita adalah orang yang sungguh-sungguh menunjukkan kebergantungan kita pada Tuhan melalui berdoa kepadaNya? Apakah sebagai orang tua maka anak kita tahu bahwa kita sungguh-sungguh berdoa kepada Tuahn supaya Tuhan akan memberikan syalom kepada keluarga kita?[END] |
|